valentino-rossi-tutup-kuping_20151027_074452Nusantarapost.com- Siapa tak mengenal Valentino Rossi, ia populer dengan julukan The Doctor, begini asal muasalnya,  Valentino Rossi sosok fenomenal di balap motor dan hingga kini masih eksis membalap memiliki beberapa julukan lain sebelum tersemat sebutan The Doctor.

Tak sekedar julukan biasa, The Doctor dinilai cocok untuk Rossi.
Ia menggambarkan seorang ‘The Doctor’ sosok yang memiliki keahlian mumpuni di bidang tertentu. Dan di bidang balap motor, keahliannya tak perlu diragukan terutama dengan berderet prestasi yang telah ia raih.

Langkah Rossi di dunia balap tak lepas dari didikan ayahnya. Graziano Rossi, sang ayah adalah seorang pembalap besar dimasa ’70-an. Tak heran ia hidup dengan udara yang kental dengan dunia balap. Ketika masa kanak-kanak yang lain asyik dengan mainan, Rossi bermain dnegan motor balap sungguhan.

Sang penghibur

Rossi yang pertama kali bergabung di GP 500cc bersama tim milik Doohan, Nastro Azzurro- Honda, saat itu dikepalai oleh mekanik andal asal Australia, Jerremy Burgess.
Suasana paddock sangat terpengaruh oleh karakter Doohan yang temperamental.
Staf, mekanik dan tim merasakan tekanan tersebut.

Rossi melihat hal tersebut ‘berbahaya’ karena ia tak bisa membalap dengan kesenangan.
Suatu ketika ia menang dan bertekad merayakan besar-besaran.
Sejak saat itu pesta kemenangan jadi ciri khasnya.
mengutip Wikipedia, dari aksi-aksinya, Rossi bagaikan magnet yang menarik orang untuk menonton GP.

Para pecinta GP tentu masih ingat akan aksinya memboncengkan fansnya yang berkostum ayam berkeliling sirkuit, aksinya memboncengkan fans yang berpakaian dokter, ia juga pernah membonceng angka satu raksasa sebagai simbol juara dunia, juga aksi wheelie dan burnout nya yang sudah tak terhitung setiap memperoleh kemenangan.

Ia juga kerap memberikan kneepad atau topi nya kepada fansnya dengan melemparnya saat berada di podium. selain itu ia juga menyukai ide sebagi illmuwan gila dan melakukan eksperimen gila, ia menganggap pantas memakai julukan itu setelah mendapatkan prestasi sebagai juara dunia. ”Di balap 500cc kita tidak butuh superhero. Yang kita perlukan cuma tenang, kalem, dan pemikir seperti doktor,”ucapnya.
Disamping itu, nama Valentino di Italia kebanyakan digunakan oleh para doktor.
Ia juga mulai mengurangi perayaan kemenangan yang dianggapnya sudah tak pantas ia lakukan.

“Cukup dengan melambai seperti pembalap lain, lalu malamnya pesta habis-habisan bareng sahabat-sahabat saya.”  tutupnya