pomNusantarapost.com – Bayak yang menginginkan harga BBM turun karena Harga BBM merupakan bahan wajib yang menjadi pemicu harga sembako di indonesia, jika harga BBM naik maka secara bersamaan harga sembako ikut naik .Dikarenakan semua alat transpotasi memakai BBM untuk berjalan kemana kemari.

Pada akhir bulan maret 2016 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memberikan catatan terkait kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar sebesar Rp 500 per liter ,cukup membantu masyarakat meskipun tidak banyak..

Salah satu poin yang sangat penting permintaan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), agar pemerintah memperbaiki kualitas BBM di Indonesia supaya bisa mengimbangi Negara tetangga di ASEAN. Agar Indonesia tidak tertinggal oleh Negara lain. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi dalam keterangan resminya menyatakan, pihaknya memiliki lima catatan kepada pemerintah mengenai penyesuaian harga BBM dan tarif untuk angkutan umum, sebesar 3% dari tariff sebelum nya.

Permintaan pertama yang diminta, ‎selain menurunkan harga BBM, pemerintah perlu secara serius menangani rantai distribusi bahan bakar minyak (BBM), khususnya di luar Pulau Jawa. Di wilayah tersebut, masalah bukan hanya terjadi pada harga saja akan tapi juga rantai distribusi yang panjang karena minimnya infrastruktur seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Agar membuat pembangunan di Indonesia merata dan menjadi lebih maju. “Akibatnya masyarakat di luar Pulau Jawa, apalagi di remote area masih membeli BBM jauh di atas harga resmi,” kata Tulus di Jakarta, Kamis (31/3/2016). Itu sangat menyiksa rakyat yang berada disana menjadi semakin menderita dan kekurangan. Permintaan yang selanjutnya yaitu penurunan harga harus diiringi dengan perbaikan kualitas bahan bakar minyak (BBM). Saat ini dianggap momen yang tepat untuk memperbanyak volume BBM dengan oktan atau RON lebih tinggi. supaya bisa mengimbangi Negara tetangga di ASEAN. “Bandingkan dengan Negara Malaysia yang saat ini memiliki BBM dengan RON 95. Sedangkan di Indonesia lebih dari 85 persen masih dipasok BBM dengan RON 88 (Premium) sangat jauh berbeda.

Sementara standar minimal Euro adalah Euro 2, dengan RON 92,”sangat di bawah standart tegasnya. ‎Lebih jauh Tulus menambahkan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ,mendesak pemerintah agar meningkatkan cadangan volume BBM dari momen penurunan harga BBM. Cadangan BBM Indonesia sekarang hanya cukup digunakan selama 19 hari saja. Kondisi tersebut, sangat berbeda dengan negara-negara ASEAN termasuk Myanmar yang memiliki cadangan bahan bakar minyak (BBM), hingga tiga bulan lamanya. Bahkan di Negara Jepang dan Korea, masing-masing mempunyai cadangan BBM yang mampu untuk memenuhi kebutuhan BBM selama empat bulan lamanya. “Kita desak pemerintah untuk meningkatkan cadangan BBM minimal untuk 30 hari.

Pemerintah harus menangani secara serius untuk membangun tangki timbun, agar bisa memperbanyak atau menyimpan cadangan BBM,” harapan Tulus. Permintaan selanjutnya dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), terkait tarif transportasi, dikatakan oleh Tulus, Kementerian Perhubungan perlu mengkaji ulang tarif angkutan khususnya angkutan yang berada di dalam kota. Langkah ini sangat mendesak dilakukan supaya menciptakan kepastian tarif bagi pengusaha angkutan dan konsumen.

Agar tidak terjadi perselesihan dan menguntungkan kedua pihak. “Sedangkan permintaan terakhir, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pemerintah harus konsisten dalam memantau penurunan harga kebutuhan pokok di ritel. Kalau harga BBM turun, tapi bahan pangan tidak turun, patut diduga ada perilaku nakal dari para pelaku pasar, itusangat mempengaruhi kehidupan di masyarakat seperti praktik monopoli. Jadi harus ada sanksi yang tegas bagi pelaku pasar yang berbuat curang itu,” tegas Tulus.