pembunuhan-ketua-perindoNusantarapost.com -Banyak yang bertanya-tentang nasib ketua umum Perindo medan dan banyak yang ingin tau juga tentang nasib pelaku pembunuhan yang dihukum tidak seperti semestinya, itu membuktikan kalau hokum di negri ini masih lemah, ingin tau lebih banyak yuk baca artikel berikut Pihak Polresta Medan telah menetapkan tersangka pembunuhan Ketua Partai Perindo Medan Johor,Gideon Ginting,ialah Bripka JPS.Tetapi Anehnya proses hukum terhadap oknum anggota Polrestabes medan itujanggal karena tidak ada penahanan dan penangkapan terhadap pelaku pembunuhan, seperti yang terjadi pada kasus-kasus pembunuhan di kalangan orang yang bukan ternama atau orang penting yang tidak memiliki uang banyak di negri ini.

Ketua Umum Pemuda Perindo, Effendi Syahputra mengatakan adanya keganjalan dan kecurigaan terhadap kasus hukum pembunuhan tersebut karena tersangka utama kasus pembunuhan itu masih bisa bebas dan pergi kemanapun dia suka. “Ini seperti kejadian-kejadian di film-film action, pelaku kriminal oknum polisi yang dilindungi oleh kawanan polisi satu kopsnya, ini tentu miris sekali buat penegakan hukum di negri ini, khususnya di kota Medan yang sudah seperti kota koboi” terang Effendi, senin (28/3/2016) Bagaimana rakyat bias percaya akan kepemimpinan di negri ini kalau masalah hokum terus terjadi seperti ini.

Effendi yang kebetulan juga berprofesi sebagai pengacara mengatakan, selain tidak ada penahanan setelah Pelresta Medang menetapkan kasus tersangka tidak ada penangkan, juga ada indikasi yang jelas tindakan penyidik di Polrestabes medan yang ingin mengelabui kasus ini, dan membelokkan kasus seolah-olah itu bukan kasus tentang pembunuhan akan tetapi hanya kasus penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan saja. Cukup ringan untuk seorang pembunuh. “Banyak sekali kejanggalan yang terjadi di muali dari sikap penyidikan kasus yang terjadi, dan menefendi mengatakan, ada orang meninggal dengan cara yang jelas-jelas dibunuh dan itu jelas dalam bukti visum bahkan ada bukti yang sangat kuat yaitu vidio detik-detik korban di bunuh oleh oknum anggota kepolisian,kok malah dibilang cuma penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan, disini saya melihat ada permainan terhadap kasus dan membelokkan fakta untuk menyelamatkan pelaku yang tak lain anggota Polrestabes medan sendiri” ujar Efendi.

Pihak Efendi meminta perhatian khusus kepada Kapolda Sumut maupun Kapolri untuk segera turun tangan menyelesaikan kasis ini tanpa padang bulu dan menggunakan etika profesionalisme agar masyarakat percaya pada hukum yang berlaku. “Kami mohon Bapak Kapolri dan Bapak Kapoldasu yang baru memberi atensi khusus atas kasus ini, kasus ini bisa semakin menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap korps kepolisian, Kalau begini terus mana mungkin masyarakat medan bisa percaya lagi dengan polisi, dalam kasus ini sudah ada konflik kepentingan di Polrestabes Medan. Kapolrestabes nya pun perlu di periksa Irwas” ungkap Efendi.Bila hal ini terjadi di keluarga Anda dan anda tidak memiliki jabatan ,apa yang bias Anda lakukan.

Polrestabes Medan telah menyelidiki kasus pembunuhan Ketua Partai Perindo Medan Johor dan menetapkan Bripka JPS sebagai tersangka bersama R yang merupakan petugas keamanan di Pusat Pasar Medan. Namun hukum tak berjalan seperti semestinya, Bripka JPS tidak dijerat dengan pasal pembunuhan.

Namun dia hanya terkena jerat dengan Pasal 170 KUHP subsider Pasal 335 KUHP pasal itu mengenai tentang penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.Padahal sudah ada bukti yang kuat yaitu ,dalam visum bahkan sudah ada video detik-detik korban di bunuh. Apakah kita harus memiki jabatan atau orang terpandang kalau bias hidup enak , membunuh sesuka nya, melakukan ssemua hal yang dia inginkan.