GoJek Dilarang Beroprasi Oleh Para Ojek Reguler
GoJek Dilarang Beroperasi Oleh Para Ojek Reguler

Nusantarapost.com – Gojek nampaknya memiliki masalah baru setelah dianggap Ilegal oleh Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) karena melibatkan ojek yang termasuk dalam salah satu sarana angkutan umum mum berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum. tak hanya DTKJ yang memprotes Gojek, nampaknya persatuan ojek reguler atau biasa disebut ojek rumahan merasa resah dengan hadirnya Gojek ini.

Usaha jasa yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini nampaknya diprotes habis-habisan oleh tukang ojek didaerah Jakarta bahkan dikawasan Kalibata City Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2015) terpampang jelas Spanduk penolakan yang ditujukan kepada Go-Jek dan Grab Bike Spanduk bertuliskan ‘Perhatian…!!! Kami dari persatuan ojek Kalibata City melarang G0-Jek dan Grab Bike masuk ke dalam kawasan Kalibata City. By Kalibata City,” itu menyusul merasa terusiknya pengemudi ojek reguler yang biasa mangkal dengan alasan pendapatan yang semakin berkurang.

Banyak perspektif bahwa Gojek adalah inovasi socialpreneur dari seorang pengusaha Nadiem Makarim. Namun itu berbanding terbalik dengan para ojek rumahan khususnya didaerah Jakarta dan sekitarnya berikut adalah kumpulan foto kawasan larangan Gojek :

GoJek Dilarang Beroprasi Oleh Para Ojek Reguler
GoJek Dilarang Beroperasi
GoJek Dilarang Beroprasi Oleh Para Ojek Reguler
GoJek Dilarang Beroperasi

GOJEK dan GRAB BIKE DILARANG BEROPERASI Gojek Dilarang

Padahal Wakil Ketua DTKJ Edi Nursalam telah menyampaikan bahwa Gojek dapat beroperasi secara legal jika perusahaan tersebut mengalihkan fokus usaha kepada penyediaan jasa angkutan barang kepada masyarakat. Usul tersebut disampaikan Edi karena penggunaan sepeda motor untuk jasa angkutan barang memang diperbolehkan, sesuai isi Pasal 10 dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.

“Silakan Gojek mungkin nanti dapat (fokus) ke usaha penyedia angkutan barang, karena sepeda motor tidak dilarang untuk digunakan sebagai angkutan barang umum di Indonesia,” ujar Edi pada salah satu media (CNN), Senin (6/7). Namun dari pihak Gojek yang diwakili Leksmono Suryo Putranto, memandang sepeda motor tidak dapat selamanya digunakan sebagai salah satu kendaraan angkutan umum di Indonesia.

“Kalau untuk bridging (penghubung antarmoda transportasi) mungkin keberadaan Gojek tidak masalah. Tapi, harus ditekankan suatu saat ini (ojek) akan hilang keberadaannya. Gojek sudah sangat populer saat ini sehingga sulit untuk dihilangkan. Pasti banyak yang marah kalau dihilangkan,” kata Suryo. Sampai hari ini belum ada kejelasan lanjut mengenai protes tukang Ojek reguler ini.