congresso_fifa_aldo_820x547_paulinomenezes

Nusantarapost.com – Kabar yang tak sedap menerima akhirnya mendapat tanggapan dari kementrian pemuda dan olah raga, Menpora imam Nahrawai menyatakan bahwa pihaknya akan menjamin persepak bolaan tanah air tidak mengalami masalah terkait ditangkapnya 14 orang petinggi FIFA Kemarin.

Beberapa kelompok menyayangkan terjadinya masalah ini namun, Menpora yakin niatnya untuk memajukan sepak bola Indonesia demi meraih prestasi akan segera terwujud.

Melalui Blue Print persepak bolaan nasional yang sudah dibuat Kemenpora Imam Nahrawi ingin membuat sepak bola benar – benar menjadi Industri dan dimiliki seluruh masyarakat Indonesia.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengatakan penangkapan pejabat FIFA di Swiss menunjukkan bahwa di lembaga tersebut ada masalah serius sehingga menjadi pantauan khusus oleh pihak terkait.

“Publik sudah dikejutkan dengan penangkapan petinggi FIFA. Kalau selama ini mengagung-agungkan mereka sesungguhnya saat ini ada masalah yang sangat besar,” kata Imam Nahrawi di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Rabu (27/5/2015).

Menjelang pelaksanaan Kongres FIFA di Swiss, masyarakat pencinta sepak bola di dunia dikejutkan oleh berita penangkapan petinggi federasi sepak bola dunia itu yang diduga tersangkut masalah korupsi serta penyuapan.

Nama-nama pejabat FIFA yang ditangkap oleh FBI itu di antaranya adalah Presiden Asosiasi Sepak Bola Amerika Tengah dan Karibia Jeffrey Webb. Ketua Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Uruguay Eugenio Figueredo, Presiden federasi sepak bola Kosta Rika Eduardo Li.

“Makanya bangsa kita jangan ditakut-takuti. Apalagi rujukannya yaitu FIFA juga dalam masalah besar yang akan mengguncang dunia,” katanya menambahkan.

Menurut dia, dengan adanya kasus tersebut bisa dipastikan pencinta sepak bola dunia juga akan memantau perkembangannya. Meski ada kejadian luar biasa di FIFA pihaknya akan tetap fokus dalam membenahi persepakbolaan nasional.

Terkait dengan deadline yang diberikan FIFA yaitu 29 Mei, politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa itu tetap dalam keputusannya. Orang nomor satu di Kemenpora itu tetap menjalankan skenario yang selama ini telah berjalan.