Penurunan Tarif Interkoneksi Akan Berdampak Pada Bisnis

Penurunan Tarif Interkoneksi Akan Berdampak Pada Bisnis
Nusantarapost.com Pro dan kontra mengenai rencana penurunan tarif interkoneksi saat ini semakin menjadi bahan omongan dan terus saja bergulir, hal tersebut semakin menjadi-jadi setelah mengalami penundaan penerapan tarif baru oleh pemerintah. Disebutkan bahwa penurunan tarif interkoneksi ini pastinya akan memiliki dampak terhadap bisnis di dalam negeri.

Pada hari Jumat kemarin, 9 September 2016 di Universitas Salemba, Lembaga Kajian Persaingan Dan Kebijakan Usaha Fakultas Hukum Universitas Indonesia menggelar seminar bertajuk Aspek Persaingan Usaha dalam Penetapan Tarif Interkoneksi.

Dalam acara tersebut, juga turut hadir Moh Ikhsan Modjo selaku ekonom ternama, beliau menyebutkan bahwa adanya kompetisi soal tarif yang dirasa tidak sehat itu akan memiliki dampat pada konsumennya sendiri.

Ikhsan menuturkan apabila seharusnya perhitungan ini didasarkan pada opportunity walfare cost dan sebagainya.

Akan tetapi, Ikhsan menambahkan bila tarif yang saat ini sudah berlaku adalah hasil dari perhitungan yang diperkirakan dari kerugian operator tertentu.

“Penurunan tarif interkoneksi pasti berimbas terhadap bisnis. Karena kompetisinya tidak lagi hanya sebatas kuat-kuatan modal. Bukan hanya sebatas sejauh mana satu perusahaan penyedia jasa komunikasi mampu menyediakan infrastruktur dan modal, tapi juga di bidang inovasi dan jasa pelayanan kepada konsumen,” ujar Ikhsan.

Tak hanya itu saja, Ikhsan juga menambahkan apabila berdasarkan sebuah studi yang pernah ia ikuti di Australia, semakin rendahnya biaya interkoneksi, maka akan kemungkinan terjadi adanya inovasi. Hal tersebut memungkinkan tingkat kompetitif pasar akan menjadi semakin baik.

Ketika dirinya disinggung mengenai masalah kemungkinan penurunan tarif interkoneksi bisa menurnkan tarif ritel. Ikhsan pun berpendapat bahwa ia optimis iya.

Menurut Ikhsan walaupun tidak menurunkan tarif ritel, penurunan tarif interkoneksi dapat membantu menurunkan net welfare lost.

Pendapat Ikhsan sekaligus mendukung pernyataan Sekjen Pusat Kajian Telekomunikasi ITB, Ridwan Effendi. Effendi menyebut, metode simetris yang saat ini digunakan pihak operator kurang sesuai untuk membantu menentukan tarif interkoneksi.

Adanya metode simetris ini memukul rata tarif interkoneksi untuk operator dinilai kurang memberikan keuntungan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pertimbangan biaya operasiona lain yang harus dirubah seiring perkembangan kebutuhan dan juga teknologi.

Share.